By: dr. Zamzani Sutriyanto
Kapasitas leadership Dahlan Iskan saya nilai telah mendekati sempurna. Saya tidak berani mengatakan sempurna karena kesempurnaan mutlak hanya milik-Nya. Dahlan terlahir dengan bakat besar jurnalistik dan jiwa kepemimpinan yang hebat. Kepemimpinannya penuh terobosan, efektif, dan terkadang unik bin nyentrik.
Koran Jawa Pos yang hampir bangkrut dan hanya beroplah 5.000 eksemplar per hari, berkat sentuhan tangan dinginnya, bisa bangkit dengan oplah 300 ribu eksemplar per hari. Tak ayal, Jawa Pos ditasbihkan sebagai raja di wilayah Jawa Timur. Surabaya Post yang dulunya selalu jadi yang terdepan, pelan tapi pasti akhirnya tenggelam di bawah bayang-bayang kebesaran koran Jawa Pos.
Tentu keberhasilan itu tidak datang begitu saja. Penuh onak dan duri. Masalah datang silih berganti. Ketika membesarkan Koran Jawa Pos, kapasitas kepemimpinan Dahlan benar-benar diuji. Ibarat sebuah kapal, ketika itu Koran Jawa Pos sedang ketimpa badai besar dan hampir tenggelam. Sebagai nahkoda, Dahlan tentu harus mengerahkan seluruh kemampuan agar kapalnya tidak tenggelam. Menyalahkan cuaca ekstrim dan fenomena alam yang terjadi, adalah sebuah tindakan sia-sia.
Di Koran Jawa Pos, Dahlan menerapkan pengelolaan Koran dengan manajemen yang benar-benar baru. Manajemen yang sama sekali tidak mengadopsi dari manajemen koran lain yang telah lebih dulu berkibar. Kalau dalam seni pewayangan, sudah keluar dari pakem. Bahkan bisa disebut sebagai dalang edan. Ada juga yang menyebutnya seorang pendekar mabuk. Bukan karena ngawur dan tanpa perhitungan, namun keputusan dan tindakan Dahlan seringkali tidak terduga dan nyleneh. Seiring berjalannya waktu, ternyata keputusan dan tindakannya itu terbukti tepat dan bisa jadi formula jitu untuk menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi Jawa Pos.
Dahlan Iskan tahu persis, bahwa untuk menaikkan oplah Koran bertumpu pada kinerja tim redaksinya. Tak heran, dia selalu meng-upgrading kwalitas wartawannya. Tak segan menularkan ilmunya. Gaya penulisan di Jawa Pos diubahnya jadi gaya bertutur dan populer. Ringan dan enak dibaca. Membawa pembaca seperti ikut berada di tempat kejadian. Perasaan pembaca diaduk-aduk dan dimainkan.
Secara ketat Dahlan mengawasi dan mengevaluasi buah karya para wartawannya. Dia juga menetapkan standard tulisan. Tulisannya harus “layak Jawa Pos”. Bahkan Dahlan menciptakan rukun iman jurnalistik. Rukun iman jurnalistik ini harus dipahami dan diimplementasikan pada setiap tulisan wartawan Jawa Pos.
Mengetahui bahwa saat itu banyak agen koran yang segan memasarkan korannya, Dahlan mendorong karyawannya jadi agen koran. Bahkan istrinya Nafsiah Sabri pun jadi agen koran Jawa Pos di rumahnya.
Terobosannya yang sangat fenomenal adalah strateginya mendirikan koran di beberapa daerah. Dahlan menyebutnya: “koran daerah mengepung kota”. Mengetahui di kota metropolitan sudah dikuasai koran nasional dan tentu akan kesulitan untuk ditembus, Dahlan mendirikan koran di daerah yang potensial. Bila di suatu daerah telah bertebaran kantor cabang Bank dan layanan ATM, tak perlu berpikir panjang dia dirikan koran di daerah tersebut. Bisa jadi pada awalnya koran daerah tersebut berjalan tertatih-tatih. Tetapi tanpa butuh waktu lama banyak koran daerah yang ia dirikan berhasil merajai daerah tersebut. Daya penciuman bisnis Dahlan terbukti hebat. Hal ini juga ditopang dengan penerapan strategi yang super jitu. Saat sekarang group Jawa Pos memiliki 207 koran, 44 TV daerah, 65 percetakan, 26 Gedung Graha Pena, dan 2 jaringan berita. Tidak mengherankan bila Dahlan dinobatkan sebagai salah satu raja media di Indonesia.
Demikian halnya ketika saat ini Dahlan mengikuti ajang konvensi capres Partai Demokrat. Untuk memenangkan tiket capres Partai Demokrat, kelihatannya Relawan Dahlan Iskan juga menggunakan strategi yang sama seperti ketika Dahlan membesarkan koran Jawa Pos, yaitu daerah mengepung kota. Tentu tidak bisa sama persis karena perangkat dan targetnya memang berbeda. Namun pada dasarnya strategi yang dijalankan adalah sama. Memperkuat jejaring di daerah dan pedesaan serta memberi sentuhan langsung pada kalangan akar rumput.
Jangan dikira terbentuknya jaringan yang solid di seluruh daerah di Indonesia itu karena Dahlan rajin kampanye. Pada ajang konvensi ini dia menepati janjinya untuk tidak melakukan kampanye. Dahlan hanya fokus bekerja melaksanakan tugasnya selaku Menteri BUMN. Relawan Dahlan Iskan yang getol melakukan kampanye. Berbagai macam komunitas pendukung Dahlan bermunculan. Jaringan mereka juga menyebar di daerah di seluruh Indonesia. ReDI, JaDI, TrenDI, ForDIS, ReDi Nusantara, Rumah Dahlan Iskan, dan masih banyak lagi yang lain.
Relawan Dahlan Iskan begitu loyal dan militan. Tiada hari tanpa kampanye. Baik di dunia maya maupun nyata. Ini semua mereka lakukan karena memiliki keyakinan yang sama. Indonesia nantinya di bawah kepemimpinan Dahlan Iskan pasti akan lebih baik. Punya harapan menjadi negara besar nomor 9 di dunia di atas Spanyol dan Mexico. Tingkat kesejahteraan rakyat juga akan meningkat.
Efektifkah strategi daerah mengepung kota yang dilakukan Relawan Dahlan Iskan? Menarik untuk kita tunggu. Untuk tiket capres Partai Demokrat, sepertinya akan berada dalam genggaman Dahlan Iskan.
Lantas efektifkah strategi daerah mengepung kota ini untuk memenangkan ajang Pilpres 2014? Ini jauh lebih menarik untuk kita tunggu.
Salam